Bersama Komunitas Perempuan IIDN, Aku Tetap Produktif Meski di Rumah Saja

Pernah mendengar nama IIDN? Organisasi ini merupakan komunitas perempuan yang tertarik dengan bidang kepenulisan. Aku adalah salah satu anggotanya. Jika ada pertanyaan, kapan mulai bergabung, lupa tepatnya. Namun seingatku ketika masih tinggal di Jakarta tahun 2015 lalu sudah pernah mengikuti training kepenulisan dari IIDN.

Berawal dari mengikuti kursus menulis itulah, aku mulai mengenal bahwa membuat tulisan dapat menjadi sebuah profesi yang menjanjikan. lini pertemananku di dunia maya mulai berganti, sebagian besar adalah ibu-ibu yang mempunyai hobi sama.

Kenapa tertarik dunia kepenulisan?

Sebenarnya, aku sudah belajar menulis dari kecil, dengan mengirim artikel dan mengelola mading ketika SMP. Namun ya hanya begitu saja, tidak berkembang.

Ketika masuk perguruan tinggi, ketertarikan pada dunia menulis terpatik dengan mengikuti training jurnalistik. Waktu itu berbayar. Kareta uangku tidak cukup, seorang kakak tingkat membayarkan separuh biayanya. Tentu aku merasa sangat bersyukur.

Setelah itu aku bergabung dengan majalah kampus dan kelompok studi ilmiah. Aku pun pernah menjajal kemampuan mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah. Beruntung, bisa membawa pulang piala tanda kemenangan.

 

Komunitas perempuan
Reuni dengan teman-teman pengurus majalah kampus

Memasuki dunia kerja, aku hampir total vakum dari dunia kepenulisan, sampai bergabung dengan IIDN. Kesibukan kantor menjadi alasan yang seharusnya tidak perlu, karena banyak penulis tetap produktif meski sibuk bekerja.

Tahun 2015 akhir aku mutasi ke daerah asal dengan job baru menghandle banyak cabang menuntutku untuk selalu mobile, hampir tiap hari ke luar kota. Ketika dalam perjalanan aku berfikir, sampai kapan bisa tetap bekerja.

Bagaimana jika sakit dan kemudian harus kehilangan pekerjaan? Atau perusahaan sudah tidak membutuhkanku, bagaimana jika perusahaan tutup. Bahkan terpikir apa yang terjadi jika aku mengalami kecelakaan dan kehilangan kemampuan bekerja?

Sedangkan aku tidak mau menggantungkan hidup pada orang lain, termasuk pasangan. Artinya harus tetap menghasilkan uang. Pada waktu tersebut, aku membaca status teman di FB yang bisa tetap menghidupi dirinya dan keluarga, dari menulis. Itu yang menjadi pemicu keinginan bisa produktif di dunia kepenulis juga.

Menurutku, pekerjaan menulis sangat fleksibel, bisa dilakukan dari mana saja, bahkan bisa dalam kondisi bagaimanapun. Seorang yang mempunyai keterbatasan dalam berjalan, bisa tetap menghasilkan tulisan keren. Meski salah satu tangan sedang sakit pun, bisa mengetik dengan yang sebelah.

Apalagi aku membaca cerita seorang teman yang mengalami gangguan penglihatan, namun tetap sukses sebagai penulis dengan bantuan orang lain. Caranya adalah dengan membuat rekaman apa yang ingin disampaikan kemudian meminta orang lain untuk mewujudkannya dalam bentuk tulisan.

Kemampuan menulis, sebuah keterampilan yang bisa dipelajari

 

Menulis merupakan sebuah keterampilan. Seperti jenis yang lain, semua orang sangat mungkin bisa menghasilkan tulisan berkualitas selama mau belajar. Seorang trainer yang mengisi training di komunitas perempuan, IIDN juga pernah mengucapkan hal ini.

Dari hal ini aku terus mengasah diri. Belajar membuat tulisan yang runtut dan mudah dimengerti pembaca. Jika dihitung, entah sudah berapa kali aku ikut berbagai jenis training kepenulisan untuk genre yang berbeda. Ada yang gratis, tidak sedikit yang berbayar. Namun aku tidak merasa rugi. “Investasi leher ke atas” sangat penting.

Setelah itu aku pun berburu berbagai event. Mulai dari menulis buku antologi, mengirim tulisan ke media online maupun offline. Ternyata menembus media itu tidak mudah. Awal, tulisanku tidak pernah dimuat. Hal tersebut tidak membuat aku menyerah

 

komunitas perempuan
Homor yang terbit di media cetak

 

Semangat untuk mencoba dan terus belajar ini akhirnya membuahkan hasil. Seorang kawan yang sudah lebih dulu mendapat job dari media online menawariku untuk mencoba mengirim tulisan. Alhamdulillah dari lima yang aku kirim, tiga diantaranya dimuat. Betapa senangnya ketika menerima honor dari menulis pertama kali.

Ini kemudian menjadi cambuk untuk terus belajar, memperbaiki kualitas tulisan dan mencoba lagi. Sampai akhirnya tulisanku muncul di 16 judul buku antologi. Selanjutnya  beberapa media online memuat artikel lainnya. Begitu juga media offline.

Keputusan untuk resign

Tepat satu setengah tahun lalu, aku memutuskan untuk resign. Meski berat, sebuah keputusan harus aku ambil. Sedangkan saat itu aku berada di level tertinggi dari karir yang dibangun sejak lulus kuliah. Keputusan tersebut harus aku ambil setelah melalui banyak pertimbangan.

Ternyata berubah dari wanita karir menjadi ibu rumah tangga, tidak mudah. Sempat mengalami power syndrome dan insecure jika bertemu dengan orang lain, serta kadang tidak bisa menerima keputusan yang aku buat sendiri.

Bukan hanya masalah rutinitas. Total mengurus anak dan keluarga ternyata tidak mudah. Belum lagi anggapan orang, dengan pertanyaan “sudah kerja enak, dapat uang banyak kok resign”. Namun aku tentu tidak bisa menjelaskan pada mereka satu-per satu alasanku dan memang tidak seharusnya mereka tahu.

Belum lagi secara finansial. Keputusan tersebut berdampak sangat besar bagi keluarga. Kami harus kehilangan sekian puluh persen penghasilan yang aku sumbangkan. Otomatis kami harus memangkas banyak pengeluaran.

Aku pun mulai berpikir, apa yang harus kukerjakan agar kondisi kembali nyaman. Sebenarnya jika ingin bekerja lagi masih bisa karena ada beberapa kenalan yang menawarkan pekerjaan, namun meninggalkan anak-anak di rumah kembali, rasanya sangat berat.

Menjadi sumber rezeki ketika sudah tidak bekerja lagi

Dalam kondisi bingung, pelarianku adalah menulis. Mungkin benar, menulis merupakan healing. Alhamdulillah, ternyata dari kegiatan ini, mulai terlihat hasilnya meski jauh dari penghasilan saat bekerja kantoran.

Jika sebelumnya menulis hanya menjadi pengisi waktu luang, sekarang sudah berbeda. Hampir setiap hari aku berusaha untuk membuat tulisan. Kebetulan aku bergabung dengan sebuah agensi artikel, jadi bisa mendapatkan job.

Di sela mengerjakan job, mengurus rumah dan anak-anak, aku masih punya waktu untuk menulis artikel ringan dan mengirimnya ke media online maupun offline. fee yang aku terima juga mulai bertambah. Kebetulan aku model diesel. jika jarang menulis, ide buntu. Namun begitu banyak kerjaan, justru ide semakin berkeliaran.

Setelah melalui banyak proses, kini meski belum terlalu banyak, namun kegiatan menulis bisa menjadi sumber rejeki. Aku tetap bisa membeli skincare, mengajak anak-anak jalan dan memenuhi kebutuhan lain dari keterampilan membuat tulisan.

Menurutku, jika terus mengasah kemampuan dan memperbaiki manajemen waktu, membuang hal yang mengganggu produktivitas, aku bisa lebih banyak menghasilkan tulisan dan uang. Aku pun bisa lebih banyak mempunyai waktu untuk diri sendiri dan anak-anak.

Lebih berdaya bersama IIDN

IIDN telah menjadi langkah bagiku untuk menggeluti dunia kepenulisan. Saat ini karyaku belum seberapa, hasil secara finansial juga baru sekian, namun aku sangat bersyukur. Meski dari rumah, ternyata aku bisa berkarir, tetap mengasuh anak-anak dan produktif bekerja.

Komunitas perempuan penulis terbesar di Indonesia ini sudah mengantarkan aku lebih percaya diri. Aku menemukan circle pertemanan yang tepat dan media belajar dengan nyaman.

Harapanku ke depan semakin banyak perempuan berdaya, mampu berkarya dan berpenghasilan di tengah segala keterbatasan. Bagi yang masih berkesempatan bekerja di luar rumah, itu adalah pilihan yang tidak salah. Namun jika kondisi mengharuskan untuk kembali berada di tengah keluarga pun harus tetap bersyukur.

Bagiku menjadi anggota dari sebuah komunitas perempuan sangat penting. Aku bisa mendapatkan banyak ilmu, teman, bertukar pikiran serta mendapat support. Apalagi komunitas yang mendukung pekerjaan, seperti IIDN.

 

 

Tinggalkan Balasan