Sang Pahlawan Kemanusiaan

pahlawan kemanusiaan

Ketika pandemi Covid sedang tinggi-tingginya setahun lalu, keluarga kami sempat merasakan kepanikan yang luar biasa. Bukan karena salah satu dari kami positif terkena virus tersebut. Kami berharap itu tidak terjadi dalam keluarga besar kami. Kepanikan itu berasal dari adik, Arif Fahruddin namanya, yang menurutku pantas disebut pahlawan kemanusiaan.

Berbekal mobil second satu-satunya milik keluarga besar kami, anak ke 5 dari 6 bersaudara ini selalu siap mengantar siapa saja. Pagi buta, bahkan ketika tengah malam ada yang sakit dan harus mendapat pertolongan, dengan sigap dia mengeluarkan kendaraan kemudian mengantarnya ke rumah sakit. Tanpa pamrih dan tidak memungut imbalan apa pun.

Adikku, pahlawan kemanusiaan

 

Lelaki berusia 28 tahun yang pernah menamatkan pendidikan D3 Teknik Mesin ini merupakan orang yang paling sigap mengendarai mobil dalam keluarga kami. Keputusannya untuk berusaha sendiri dengan membuka bengkel dan jual beli motor bekas memberinya banyak waktu untuk melakukan berbagai hal.

Tidak heran jika ada keluarga, tetangga atau kerabat yang membutuhkan pertolongan, dia menjadi tujuan pertama. Apakah kami, keluarganya bangga? Tentu saja.

Sejak kecil dia memang beda. Ketika dulu kakak-kakaknya memilih untuk menempuh pendidikan S1, dia tidak. Menurutnya keterampilan lebih cocok baginya. Kenapa tidak bekerja di luar rumah atau melamar pekerjaan di perusahaan? Alasan yang disampaikan cukup simpel. Dia ingin dekat dengan keluarga dan enggan merantau atau bekerja yang mengharuskannya meninggalkan rumah.

Kami, aku yang merupakan anak kedua dalam keluarga besar kami dan kakak terutama, sangat menghormati keputusannya. Sebisa mungkin kami membantu mewujudkan mimpinya mempunyai usaha sendiri. Namun kami juga mempunyai keluarga. Ada keterbatasan untuk membantunya.

Membantu tanpa pamrih

Kembali ke adik yang kami sebut pahlawan kemanusiaan ini. Beberapa kali dia harus mengantar tetangga yang mendadak sakit pada saat Covid sedang tinggi-tingginya. Prioritasnya adalah pasien segera mendapat pertolongan.

Kepanikan luar biasa

Suatu hari, alangkah paniknya keluarga besar kami ketika salah satu tetangga yang hari sebelumnya diantar ke rumah sakit dinyatakan positif Covid. Adik kami yang biasa dipanggil dengan nama Udin ini yang mengantar dan sempat berinteraksi langsung sewaktu membantu mengangkat pasien.

Ketika keluarga kami berkumpul, kakak tertua memintanya untuk segera melakukan rapid test untuk memastikan apakah dia tertular. Kami takut hal buruk terjadi. Dia memang nampak sehat, tidak ada tanda-tanda tertular virus mematikan itu. Tapi bagaimana dengan yang lain?

Dalam keluarga besar yang berinteraksi langsung dengannya, ada 3 orang yang rentan terjangkit. Semua belum mendapat vaksin. Pertama ibu. Di usianya yang sudah 65 tahun, beliau sangat mudah tertular. Apalagi riwayat kesehatannya kurang bagus karena mengidap penyakit gula.

Kedua aku. Aku pernah menderita sesak napas akut beberapa kali karena ashma. Virus dan kuman sangat mudah untuk berkembang. Daya tahan tubuhku juga tidak terlalu kuat sehingga mudah sakit ringan seperti flu dan batuk.

Ketiga, anak keduaku. Si kecil yang saat itu baru berusia satu tahun tentu belum mempunyai kekebalan yang cukup. Sedangkan dari hari sebelumnya, setelah mengantar pasien yang positif Covid, Udin sempat berinteraksi dengan si kecil. Jika dia membawa virus, entah bagaimana dengan kami.

Rapid test yang bikin deg-degan

Begitu kakak memintanya untuk rapid test, bukannya langsung ke klinik, Udin justru masuk kamar. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Entah takut tertular, atau bingung melihat reaksi kami yang panik.

Setelah beberapa waktu, barulah dia keluar kamar. Apa yang disampaikannya membuat kami salut. Menurutnya dia bingung. Sebenarnya khawatir tertular, tetapi jika rapid test membuktikan dia tertular, maka seluruh keluarga pasti akan semakin panik.

Kami berembug menyusun opsi bagaimana jika hal terburuk yang terjadi. Pasti, Udin harus isolasi. Pilihannya adalah isolasi mandiri agar tidak membuat kerabat yang mengetahui ikut bingung.

Tapi mau dimana? Apakah di rumahku yang ada di belakang rumah ibu, kemudian aku, anak-anak dan suami sementara tinggal di rumah ibu, atau sebaliknya. Di tengah kebingungan tersebut akhirnya dia memberanikan diri untuk rapid test.

Syukur Alhamdulillah hasilnya negatif. Kami semua lega. Bersyukur yang tiada henti, Allah masih memberi banyak kemudahan.  Dia Yang Maha Tahu bahwa niat si adik untuk membantu tetap mendapat kesehatan.

Setelah dinyatakan negatif, apa yang dia lakukan? Mencuci dan mensterilkan mobil. Kami sempat dibuat tertawa karena hal ini. Menurutnya, kendaraan ini harus segera dipastikan tidak membawa penyakit. Bukan karena akan kami gunakan, tetapi untuk berjaga-jaga. Sangat mungkin tiba-tiba ada tetangga atau siapa pun yang perlu bantuan untuk ke rumah sakit juga.

Harapanku untuknya

Buat kami, jasa kecilnya dengan rela stand by mengantar siapa pun yang perlu pertolongan tanpa imbalan merupakan sebuah hal besar. Almarhum bapak pasti sangat bangga padanya. Meski bagi orang lain hanya tindakan ringan, namun di tengah pandemi belum tentu ada yang mau melakukan.

 

Pahlawan kemanusiaan

Aku berharap kebaikannya memberi jalan kemudahan untuknya dalam mengembangkan usaha. Salah satunya adalah agar lebih mempunyai waktu untuk membantu sesama. Secara skil dia memang punya. Basic pendidikan formal di STM dan D3 jurusan mesin serta ketekunannya mengutak-atik motor dapat menjadi bekal.

Saat ini modal adalah kendala utama untuk mengembangkan usahanya. Kami sudah membantu semampunya. Semoga pahlawan kemanusiaan di mata keluarga ini semakin bisa mengembangkan sayap usaha sesuai passionnya.

Tinggalkan Balasan