Cerpen Pertama

cerpen pertama

Akhirnya….saya bisa nulis cerpen. Itu yang terucap dari mulut ketika satu karya nongol di media online. Cerpen pertama saya tersebut berjudul “Laki-laki Dalam Potret Ibuku”. Karya sastra pertama ini dipublikasikan oleh platform Dunia Santri pada tanggal 13 Mei 2022.

Tulisan bergenre sastra yang bercerita tentang kehidupan keluarga sederhana ini bulan serta merta bisa muncul di platform berbasis pesantren tersebut. Awalnya saya sudah mengirim ke media lain namun belum bisa dimuat dengan alasan tidak sesuai temanya. Saya pernah pasrah. Beberapa waktu cerpen itu tersimpan sampai akhirnya terpikir untuk mengirim ke media lain.

Latar belakang cerita

Background cerita ini merupakan true story dari seorang kenalan yang sudah saya gubah sedikit. Saya ingin menyampaikan bahwa realita seperti dalam cerita itu benar ada. Seorang anak yang merasa tidak beruntung karena kelainannya.

Bahkan orang yang seharusnya menyayangi malah menyia-nyiakan. Namun ada yang tidak bertalian darah justru sangat sayang dengan tulus.

Apakah saya mengalami kesulitan menulis cerita ini? Alhamdulillah tidak. Meski genre ini tidak biasa saya eksekusi. Dari yang biasanya menguraikan tentang tips, ulasan dan tema-tema lain kemudian harus ke fiksi. Memang tidak mudah.

Namun karena cerpen pertama yang publish ini berasal dari kisah nyata, mudah untuk mengeksekusinya. Ketika menulis, saya berkonsentrasi pada kondisi yang dialami tokoh. Bahkan memposisikan seolah dia adalah saya. Cara ini ternyata cukup ampuh untuk membuat cerita menjadi mengalir dengan mudah. bahkan tidak melalui banyak revisi, kecuali karena typo yang masih banyak.

Menangis membaca karya sendiri

Agar lebih matang, sebelum pertama saya mengirim by email, terlebih dulu mendiamkannya beberapa waktu. Berikutnya membuka tulisan itu kembali, membacanya kemudian memotong sana sini, menambal dan menambahkan yang perlu sehingga alurnya menjadi lebih nyambung dan mudah untuk dipahami.

Apesnya, ketika saya membacanya kembali, air mata turun. Mungkin karena saya berusaha memposisikan diri sebagai tokoh dalam cerita tersebut. Membayangkan apa yang terjadi padanya membuat cerita yang tertulis semakin punya ruh. Ini yang membuat air mata turun, justru setelah sekian kali dan cukup lama kisah itu mengendap di laptop.

Masih tertarik untuk menulis genre sejenis? Tentu saja. saya selalu penasaran untuk mencoba berbagai jenis tulisan. Bahkan setelah berhasil “pecah telur” jusrtu semakin ingin mencoba kembali. Ide untuk membuat tulisan sejenis itu juga banyak kok. Tidak akan pernah habis. Banyak hal kecil yang bisa dikembangkan menjadi cerita besar.

Menurut saya memang merangkai kata itu hal yang sangat mengasyikkan. bahkan banyak yang menjadi sumber penghasilan utama. Meski tidak berani berharap banyak. Mudah-mudahan, ketukan keyboard yang saya lalukan bermanfaat dan karya sastra berikutnya akan menyusul cerpen pertama yang sudah publish. Allahumma Aamiin.

1 tanggapan pada “Cerpen Pertama”

Tinggalkan Balasan