XBank, Apa Yang Saya Peroleh Setelah Belasan Tahun Kerja Di Bank?

XBank

Kali ini saya akan membahas sesuatu yang berbeda dari tema-tema sebelumnya. Setelah   saya resmi mendapat gelar XBank. Pasalnya selama belasan tahun sebelumnya saya bekerja tidak jauh dari dunia perbankan. Saya tidak akan membahas apa alasannya, karena itu dapat menjadi bahan diskusi panjang.

Singkat cerita, saya mengawali bekerja secara profesional pada tahun 2005. Istilahnya menjadi orang kantoran, pertama sebagai Branch Manager atau wakil kepala cabang di salah satu lembaga keuangan di Tangerang.

Tidak perlu menunggu waktu lama, saya mendapat promosi dan berpindah tugas ke Bogor. Setelahnya di perusahaan berbeda pernah bekerja di Bekasi, Jakarta, Jawa Tengah dan terakhir Yogyakarta.

Tentu semua merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam hidup. Pertama bekerja, perusahaan tersebut sebelumnya merupakan sebuah Yayasan yang concern untuk pengentasan kemiskinan dengan pemberdayaan perempuan melalui pinjaman modal lunak.

Melihat ada anggota (sebutan untuk nasabah) yang berhasil membangun sebuah usaha dengan modal dari kami, rasanya senang sekali. Apalagi ketika mereka mampu mengembalikan tepat waktu. Saat itu pikiran saya adalah membantu mereka, tidak tahu bagaimana mereka harus berusaha untuk mengembalikannya.

Pelajaran yang saya peroleh setelah bergelar XBank

Awalnya, pinjaman yang hanya beberapa ratus ribu tersebut oleh anggota digunakan untuk membuka dan mengembangkan usaha. Setiap periode besarnya pinjaman bertambah dan ternyata penggunaannya pun mulai bermacam-macam.

Hal ini pasti terjadi pada semua lembaga keuangan dimana nasabah seringkali menggunakan pinjaman tidak sesuai dengan pengajuan. Meski petugas telah melakukan analisis kemampuan pengembalian pinjaman, namun jika penggunaan dana tidak sesuai ya sama saja bohong.

Bertambah kesini, semakin banyak masalah yang menimpa nasabah sehingga mereka akhirnya wanprestasi, tidak mampu membayar kewajiban. Ujungnya timbul masalah, yang bukan hanya dihadapi oleh nasabah, tetapi juga lembaga keuangan pemberi pinjaman.

Dari cerita di atas dan pengalaman saya bertemu, berkomunikasi dan berinteraksi dengan banyak karakter orang, saya bisa mendapat banyak pelajaran. Ternyata banyak faktor yang menyebabkan seseorang akhirnya terjebak dalam hutang yang tidak ada penyelesaiannya.

1. Pola hidup konsumtif

Mudahnya mengakses berbagai informasi menyebabkan perubahan pola hidup. Jika sebelumnya “yang penting ada” sekarang berubah, “yang penting diadakan”. Maksudnya jika ingin sesuatu walau belum mampu ya bagaimana caranya harus ada. Berhutang adalah salah satunya.

2. Prinsip “jika tidak hutang, tidak akan punya”

Prinsip ini sering menghinggapi orang yang mempunyai rasa gengsi tinggi. Melihat orang lain mempunya barang, ya harus bisa beli. Apalagi banyaknya tawaran untuk mendapatkan kredit dengan mudah. Hal ini mendorongnya untuk mengambil kredit supaya bisa punya, sama seperti teman-temannya.

3. Lupa mana yang ingin dan perlu

Berhutang untuk hal produktif, barangkali masih bisa mengandalkan penghasilan untuk membayarnya. Namun jika konsumtif? Tentu pengembaliannya akan menjadi masalah. Sayangnya banyak yang lupa untuk memprioritaskan barang yang diperlukan dan diinginkan.

Jika sekedar ingin, sebenarnya tanpa membelinya tidak masalah. Kualitas hidup tidak akan turun. Namun apabila perlu, nah ini beda. Harus dikaji lagi. Apakah tanpa barang tersebut mengganggu hidupnya? Seandainya jawabnya adalah sama saja, ya berarti “tidak perlu”.

4. Tidak enak sama marketing bank

Ada lho yang menyampaikan alasan pinjam uang lagi karena tidak enak dengan marketing. Ini tentu alasan yang dibuat-buat. Tugas marketing memang menawarkan dan mencari debitur. Mereka mendapatkan gaji untuk mengerjakan tugas tersebut. Jadi jangan pernah merasa tidak enak hati menolaknya.

Pengalaman saya sebagai XBank, beberapa kali menemukan hal seperti ini. Ketika on the spot, nasabah menyampaikan pinjaman lagi karena ingin menolong petugas untuk mencapai target. Pinjaman yang tidak tepat sasaran inilah yang sering mengakibatkan masalah pembayaran karena rendahnya rasa tanggung jawab terhadap kewajiban.

5. Tidak memperhatikan repayment capacity

Satu lagi masalah yang akhirnya menjerat nasabah sehingga tidak mampu mengembalikan pinjamannya, yaitu tidak memperhatikan kemampuan membayar. Istilahnya dalam dunia perbankan adalah repayment capacity.

Seringkali nasabah memalsukan data sehingga yang seharusnya tidak layak mendapatkan pinjaman, akhirnya berdasarkan analisis masih masuk. Hal ini sebenarnya menggali masalah bagi diri sendiri karena tidak adanya kemampuan membayar pinjaman yang menyebabkan angsuran terasa berat.

https://jejaklangkahbundaisna.com/2022/02/14/sharing-yuk-strategi-finansial-freelancer-pemula/

6. Pihak petugas bank yang tidak realistis melihat kondisi nasabah

Marketing setiap bulan mendapat target untuk mencairkan sejumlah pinjaman. Sering kali ini menjadikannya “menutup mata” pada kondisi calon nasabah. Meski berdasar hasil analisis sebenarnya tidak layak, namun demi mengejar “prestasi”, yaitu pencapaian target akhirnya memanipulasi data calon nasabah.

7. Peran institusi untuk memberikan literasi keuangan yang sehat dan bertanggung jawab tidak berjalan

Lembaga keuangan mempunyai tanggung jawab moral untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai manfaat dan resiko pinjaman. Namun sayang, informasi ini kadang tidak tersampaikan secara berimbang sehingga calon nasabah keliru dalam mengambil fasilitas pinjaman.

8. Masih rendahnya budaya menabung di beberapa kalangan

sebagian orang masih jarang menabung untuk membeli suatu barang. Mereka lebih suka mencari jalan pintas, berhutang untuk membeli barang dan membayarnya kemudian.

Padahal seharusnya menabung dalam pengaturan keuangan, seperti halnya biaya makan, transport, bayar hutang dan lainnya, yaitu suatu kewajiban. Artinya seharusnya pos ini dikeluarkan begitu menerima uang, baru sisanya untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

https://superyou.co.id/blog/keuangan/penyebab-utang/

Apakah sebagai XBank saya pernah merasa bersalah? Sering. Kenapa? Secara tidak langsung ketika tidak memberikan penjelasan detail kepada nasabah mengenai manfaat dan resiko pinjaman, maka saya ikut menjerumuskannya.  Berbeda dengan jika saya sudah menjelaskan semuanya dan nasabah memang merasa mengajukan pinjaman adalah solusi, ya monggo saja.

Hal di atas hanya beberapa pengalaman saya ketika menjadi bankir. Tentu masing-masing orang berbeda-beda. Termasuk alasan meninggalkan dunia perbankan. Begitu juga dengan saya, pada saat memutuskan untuk menjadi XBank juga mempunyai banyak alasan yang menjadi dasar pertimbangan.

2 tanggapan pada “XBank, Apa Yang Saya Peroleh Setelah Belasan Tahun Kerja Di Bank?”

Tinggalkan Balasan