Buah hati

Kado di tengah Pandemik

Senang banget akhirnya mempunyai blog yang lebih baik. Lembar pertama blog ini aku isi hampir bersamaan dengan kelahiran anak kedua ku. Ya. Alhamdulillah, di usia 42 tahun aku kembali diberi kepercayaan melahirkan seorang baby boy. Pertama kali mengetahui aku hamil anak kedua ini? Senang, bingung, ragu. Semua campur aduk menjadi satu. Sungguh tidak menyangka. Saat lepas IUD beberapa tahun sebelumnya, dokter SpoG yang sebelumnya membantu kelahiran anak pertama ku menyampaikan bahwa peluang untuk mempunyai anak lagi sangat kecil. Hal ini selain karena usia ku yang mendekati 40 tahun waktu itu, juga riwayat menstruasi ku yang tidak rutin. Selebihnya aku tidak pernah bertanya karena aku sudah pupus semangat mendengar kemungkinan itu. “Hanya doa yang bisa menambah peluang kehamilan lagi,” begitu ucapnya sambil tersenyum menenangkan. Nanti di lain tema aku akan bahas siapa bu dokter cantik idolaku itu.

Alhamdulillah, seperti anak pertama, kehamilan anak kedua ini dapat aku lewati dengan mudah. Meski kondisi kami sangat berbeda dengan kehamilan anak pertama. Pada saat kehamilan anak kedua, aku baru saja memulai bekerja di sebuah perusahan setelah sebelumnya resign dan menjadi ibu rumah tangga. Tinggal kost di kota Sleman, sedang suami dan anak pertama ku tetap tinggal di kampung halaman, tentu tidak mudah. Setiap Senin pagi selesai sholat subuh aku harus berangkat ke stasiun, mengejar kereta Prameks pertama agar dapat sampai kantor tepat waktu. Setiap Jumat malam, dengan kereta aku pulang kembali ke Solo.

Anak kedua ini ternyata harus lahir dengan operasi secar juga. Kalau anak pertama aku secar di RS Yarsis Kartasura, sedang anak kedua aku memilih di RS Indriati Solo Baru. Jauh dari rumah? Ya. Aku memilih RS Indriati karena beberapa pertimbangan, salah satunya adalah aku ingin operasi secar dilakukan oleh dokter Cici, dokter yang sebelumnya membantu kelahiran anak pertama. Kebetulan beliau sekarang praktek di RS Indriati Solo Baru.

Pada awalnya membayangkan operasi secar untuk kedua kali, kecut juga nyali ku. Menurut cerita beberapa teman yang dua kali atau lebih secar, operasi secar yang kedua jauh lebih sakit dibanding yang pertama. Dan aku membuktikannya. Duh….rasanya perih banget walau pun aku sudah dibius. Bagaimana tidak, bekas sayatan kelahiran pertama itu yang disayat lagi untuk kelahiran yang kedua ini.

Anak kedua kami lahir di tengah keadaan yang tidak tenang.  Dunia sedang diresahkan oleh penyakit corona yang banyak menimbulkan korban jiwa. Sejalan dengan himbauan untuk mengurangi kerumunan, pihak rumah sakit membatasi jumlah penunggu pasien dan meniadakan jam besuk bagi pasien. Satu pasien hanya boleh ditunggui oleh satu anggota keluarga. Terpaksa hanya suami yang bisa menunggu saat aku menjalani operasi. Ketika aku tanya bagaimana rasanya menunggui istri yang sedang di ruang operasi seorang diri, tanpa ada yang menenangkan pikirannya? Jawabnya, campur aduk. Antara panik, bingung dan bahagia saat perawat memanggil dan menyampaikan bahwa bayi kami lahir dengan selamat, seorang bayi laki-laki. Senang dan bahagia karena akhirnya anak kedua lahir dengan selamat, lengkap dan sempurna. Panik, karena masih menunggu istri yang belum keluar dari ruang operasi.

Alhamdulillah…akhirnya emak nya kembali menjadi yang paling cantik di rumah. Kelahiran anak kedua kami pada tanggal 23 Maret 2020 menjadi kado terindah untuk ulang tahun ayahnya. Rumah mungil kami kini terasa lebih ramai dengan kehadirannya. Namun ada hal lain yang sebenarnya mengganjal pikiran ku. Bagaimana bayi ku nanti jika masa cuti ku sudah habis dan aku harus kembali ke Sleman untuk bekerja?

Isna

Saya seorang ibu dengan dua anak laki-laki. Saat ini saya aktif bekerja secara profesional di luar rumah. Menulis adalah hoby yang saya geluti saat ini, selain sebagai crafter dengan membuat berbagai model tas rajut. Saya belajar merajut secara otodidak dari youtube.

Sebagai penikmat kopi hitam dan teh hangat manis, rasanya hari belum lengkap tanpa keduanya.

Mimpi saya adalah suatu hari saya bisa hidup sejahtera dari menulis dan mempunyai usaha berbasis craft serta dapat memberi peluang kerja bagi para wanita di sekitar saya.

Anda mungkin juga suka...

4 Komentar

  1. Barakallahu Bunda. Senang rasanya mendengar kabar bahagia ini. Selamat atas kelahiran ananda ya, Mbak.

    Dan aku nggak nyangka, blog ini menjadi kabar bahagia juga. Aku tunggu kisah inspiratif selanjutnya ya, mbak.

    Jangan lupa mampir ke blog http://www.malicaahmad.com atau mywordsjourney.com untuk saling berbagi inspirasi. Eaah.. Hihi

    1. admin says:

      Aamiin, terima kasih banyak mba…semoga tulisan-tulisanku selanjutnya bermanfaat. Wah..senangs ekali dapat link blog yang bisa jadi bahan belajar nih…matur nuwun

  2. Barakallah Mbak, semoga kelahiram ananda semakin menambah rasa cinta dan kasih sayang dalam keluarga dan ananda menjadi anak yang sholih, aamin.

    1. admin says:

      Aamiin, terima kasih banyak mba…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *